Kucumbu tubuh indahku

It’s been long time !!!

Setelah sekian lama kehilangan hasrat menulis review, terima kasih garin sudah membuat saya “merasa” kembali dan ingin berbagi pengalaman menonton saya film terbaru bertema LGBT berjudul Kucumbu Indah Tubuhku. Be ready… this might be not for you !

Mini Synopsis :

Kisah seorang bocah bernama Juno yang ditinggal sebatang kara oleh bapaknya. Hidup sendiri di jawa tengah diasuh oleh orang-orang yang berbeda dan mewarnai masa tumbuh Juno hingga menemukan jati dirinya. Menjadi seorang penjahit baju pengantin yang jatuh hati dengan petinju, menjadi penari Lengger yang disukai bupati di desanya, hingga dipelihara seorang Warok dan menjadi Gemblaknya. Juno kembali dilempar ke dunia yang keras sekali lagi.

LGBT Warning !

Juno sudah terekspos dengan seksualitas dari sangat muda seperti tidak dapat menutupi hasrat tubuhnya yang menginkan keberadaan seorang pria juga. Film ini menggambarkan bahwa hubungan sesama jenis sudah ada di tengah-tengah kita walaupun baru marak akhir2 ini setelah istilah LGBT populer di social media. Menjadi cross dresser dan menarikan Lengger sebagai wanita menjadi dunia lain yang dihidupi Juno seorang penjahit sekaligus sebagai seniman.

Realisme

Walaupun menurut saya skenario yang dibuat cukup dramatis dan teaterikal, tapi Garin berusaha membawa kaki kita tetap terikat di tanah dengan narasi seorang Juno di kehidupan nyata yang menginspirasi cerita film ini. Garin mencoba menjahit film fiksi dengan sedikit gaya dokumenter. Membuat karya sinema yang dilukis dengan kuas teater. Dominasi gambar close up yang memaksa kita (suka atau tidak suka) untuk mengenal karakter Juno dengan lebih lekat, lebih pekat. David bowie dan Fredie Mercury seperti menjadi cameo di sana sini, seperti bilang kepada kita bahwa kita sudah menerima keberadaan mereka sejak lama. Melalui seni tidak perlu lagi paranoia terhadap kaum yang sekarang sedang menjadi ajang samsak untuk dibenci dan dikambing-hitamkan.

Movie for the soul.

Akhir-akhir ini saya menonton film untuk hiburan, mata saya dimanjakan, pikiran saya diajak berhitung dan mengira, tapi saya lupa bahwa jiwa saya juga memiliki cara berpikiran sendiri. Walaupun banyak adegan yang terlalu brutal, berdarah-darah, jarum, saya merasa Garin mengajak berdiskusi dengan saya bahwa… ngapain sih kita norak anti LGBT, mereka ada sejak lama di indonesia seperti Warok dan gemblaknya, bahkan orang2 di pemerintahan yang cantik di publik punya kisah kelam di ranjangnya.

Garin mengajak saya berdiskusi menembus hati melalui tubuh saya. Tubuh pemberian yang tidak saya jaga, tubuh yang menyimpang semua kenangan dalam hidup, trauma masa lalu, dan membawa saya kemana yang saya inginkan. Jiwa saya yang cuma menumpang dalam tubuh ini seperti lupa bahwa raga cuma penduduk kelas dua. Ah! Saya rindu “merasa”. Terima kasih Juno, terima kasih Garin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s