Ave Maryam oh Maryam

Ave Maryam (2019)

Sudah menunggu film ini cukup lama, seperti ada kerinduan melihat Maudy Koesnaedy di layar perak sekali lagi. Dan saya merasa tidak ada yang lebih pas memerankan Maryam selain Maudy. Saya tidak tahu banyak tentang film ini kecuali Joko Anwar ikutan jadi cameo sebagai Romo. That’s it.

Mini synopsis :

Suster Maryam (Maudy Koesnaedy) membaktikan diri si sebuah gereja katholik di Semarang dan menjalankan tugasnya merawat para suster jompo. Keimanan nya diuji sedemikian berat saat datang Romo Yosef (Rico Jericho) yang tidak hanya mengajar kelompok musik jelang Natal tapi juga membawa kebahagiaan di rumah dormitory suster. Undangan untuk bertemu dan berbincang semakin sering terjadi hingga membawa Suster Maryam kedalam perang dalam hatinya. Siapakah yang akan dipilih ? Cintanya kepada Tuhan atau Cinta nya kepada manusia?

A very slow movie.

Akan ada banyak adegan dengan gambar long shoot, dengan aktifitas sangat sederhana dalam waktu yang cukup lama. Entah apa yang dimaksudkan ? Tapi saya merasa dingin, terasing, dan tidak intim. Itulah perasaan saya sepanjang film dengan adegan-adegan panjang tanpa dialog. Bahkan adegan kencan pertama, dialog dari sebuah film yang mengisi kesepian Romo dan suster menjadi awkward tapi memorable. Super slow… dan tanpa disadari film ini berakhir.

Semarang is so Europe.

Saya pernah ke semarang dan sejujurnya saya tidak terlalu banyak menikmati karena tidak banyak yang bisa lakukan, tapi saya ingin kembali sekali lagi. This place is charming, berarti cinematografernya canggih. Tanpa lighting yang fancy ala film2 drama romantis Hollywood, atau carry blossom ala film korea, Ave Maryam menampilkan semarang cukup tua dan menawan.

SPOILER ALERT !!!

Bagaimanapun lamanya, saya setia menikmati gambar2 jauh, lama, gelap, dan dingin di sepanjang film ini. Setelah film ini berakhir, ada rasa sedih yang sangat mendalam saya rasakan. Somehow I can relate. Bagaimana seorang manusia terpaksa harus membunuh rasa demi keimanan dan cinta kepada Tuhannya. Sedangkan manusia dilahirkan dengan insting untuk memiliki dan dimiliki. Lebih berat lagi saat sesuatu yang sangat nyata mereka menjadi sangat berdosa dimata orang lain. So painful to watch, yet very brave to made a movie like this.

8 out of 10* super slow… I warn you. #ShortReview #FilmIndonesia #Drama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s