Bad times at The El Royale, like how bad?

Setelah sekian lama absen nonton midnight show di hari sabtu, akhirnya saya kembali. Hanya karena film ini punya trailer yang (menurut saya) keren parah, saya pun tancap gak jam 10 malam dari Jimbaran menuju Kuta. Iya anaknya niat banget.

Mini synopsis :

Sebuah hotel yang berada persis di perbatasan California yang hangat dan Nevada yang penuh harapan, Hotel El Royale ternyata tidak hanya unik tapi punya sejarah gelap yang segera terungkap. 7 orang asing yang bertemu di hotel ini memiliki identitas yang masing-masing tersembunyi dan memiliki agenda yang berbahaya. Benarkah ada harta karun yang tertanam dibawah hotel ini?

Deeper then what we see.

30 menit setelah menonton film ini saya masih bingung apakah saya suka atau tidak? Terlalu banyak pertanyaan yang tidak terjawab atau plot yang ajaib, serta casting yang tidak lumrah. Lantas… semakin saya mempertanyakan “kenapa?” Dan “Kok gitu?” Saya malah terjerumus ke dalam pertanyaan dan konklusi yang semakin dalam. Membuat saya lebih mengapresiasi apa yang dicoba diceritakan oleh sang sutradara.

Merah atau hitam, baik atau benar, California atau Nevada, Pendeta atau Penjahat, Pendosa atau penolong, Tuhan atau Tidak ada Tuhan.

Sedalam itulah kontemplasi yang saya lakukan setelah menonton film ini, semakin dipikir semakin jenius. Film ini sedang ber filsafat dengan bahasa visual dalam media cinema dengan genre yang tidak lazim. Bayangkan… film ini mencoba mengatakan bahwa “Kalian semua manusia bermain peran menjadi Tuhan”, dalam genre film misteri yang berdarah-darah dan seorang Pastor KW yang juga seorang perampok. How sensitif this is ? Orang baik sangat mudah berjatuhan, cukup awal. Saat kamu memilih satu orang sebagai hero kamu akan salah. Heroic dan bodoh kadang2 terlalu tipis bedanya.

What you see, what you thought, is not always what is the reality.

Permainan karakter yang komikal dari awal film; Pendeta yang tenang (Jeff Bridges), Penyanyi yang penyendiri (Chyntia Erivo) gadis cantik yang keras (Dakota Johnson), salesman yang banyak omong (Jon Hamm) , Pemimpin cult (Chris Hemsworth) dan bellboy yang canggung. Dari awal film ini mengingatkan saya dengan film Hateful eight karya Tarantino. Tapi sentuhan lagu sepanjang film yang hampir pantas disebut musical membuat film ini tidak hanya mengusik pikiran penasaran saya tapi juga memanjakan telinga saya. Persis seperti akhir film ini Darlene berkata “Thank you for listening I’m singing”. Because I did ! Dan semua orang di bioskop mendengarkan lagu-lagu lawas 60an yang romantis dan legendaris.

Film ini bukan untuk orang kebanyakan, buat yg suka mikir… hukumnya wajib. 8 out of 10* #ShortReview

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s