Dilan, 1990 di tahun 2018

Sejak saya berseragam putih abu abu hanya jatuh cinta dengan satu gadis saja, namanya Ayu. Saya menunggunya 1 tahun lebih sampai dia benar-benar single. Kami hanya pacaran di warnet yang berbeda, janjian chatting dengan Yahoo Messenger tanpa bertatap muka sudah bahagia rasanya. Namaku bukan sephia waktu itu, tapi saya kekasih gelapnya. 2 tahun kemudian saya mendapatkannya. Our first kiss is so awkward! Hampir 2 tahun pacaran, putus, dan dia menikahi pria lain. Kalau saja saya dilan, mungkin bisa berbeda. Sayangnya bukan.

Film ini asik2nya membawa saya kembali ke masa2 sekolah tanpa ijin tanpa permisi, dan cinta remaja memang tak biasa. Belum tentu saya mau mundur tapi film ini sekali lagi membawa saya kembali lagi dan lagi. Sudah 2 kami mencoba kabur dari bioskop karena tak ada sedikitpun keinginan nonton film drama anak sma ini. 2 kali sudah didepan kasir dan pulang, tapi hari ini saya putuskan. “Nonton sajalah, daripada macet2an. Macet itu berat, kamu di rumah saja, biar aku”.

Mini synopsis :

Milea gadis baru di sebuah SMA di bandung merasa kebingungan saat ada lelaki yang terus mendekatinya dengan cara-cara yang tidak lazim dan malah membuat Milea jatuh hati. Tak lama Milea mengenal si Bad Boy ini bernama Dilan. Bagaimana dengan Beni pacarnya yang di jakarta? Atau Kang Adi, mahasiswa yang jelas2 menaruh hati padanya, lantas siapa Nandan?

Too sweet for me.

Begitu banyak kalimat2 rayuan yang berhasil membuat orang2di bioskop ketawa ketawa geli setengah pengen setengah ngarep. Kepolosan Ini untungnya masih masuk akal untuk saya kalau melihat setting tahun dan genre film ini. But for me… kelewat manis, I can not take it. Cewek2 pasti doyan sih nonton film ini. Jika kalian para cowok berhasil menolak cewek kalian untuk nonton film ini, selamat!. Dilan makes any boyfriend looks bad. Terlalu sempurna, kalian tak akan sanggup dibandingkan.

Anyeong Haseo…

Sekarang saya jadi tahu kenapa buanyak nyak nyak nyak wanita yang naksir Dilan, karakter dari novel fiksi yang dihidupkan oleh Iqbaal Ramadhan. Sosok remaja, dengan potongan ala korea, badan ceking yang suka berkelahi ini jago merayu karena hobby nya membaca dan bikin puisi. GUYS! COME ON!!! This dude is not real in real life. Muka korea, jadi panglima geng motor, dan suka bikin puisi? Berbeda dengan sosok Milea, gadis manis yang selalu jadi primadona dan type semua orang. We all have this girl in our high school. Anyway… mereka berhasil membangun chemistry.

90s galore.

Yang bikin saya sedikit “gak pas” cuma, kenapa anak2 SMA ini pake seragam baru? Team kostumnya kurang detail. Kota bandung yang tua dan romantis cukup berhasil divisualkan, tapi era 90an cukup susah dihadirkan mungkin karena film ini sama sekali tidak menggunakan soundtrack ala pop kala itu untuk menjaga “kekinian” bagi penonton millennials. Mereka tidak akan faham rasanya menunggu telpon berdering setiap jam 7 atau 8 malam setelah belajar. Mereka nggak tau rasanya antri di telpon umum koin. No honey, it’s not bitcoin.

Overall film ini cukup berhasil menjadi drama komedi yang siap menjadi icon di tahun 2000 belasan. Cukup lama sejak AADC, but again… it’s different class. 8 out of 10* not so bad and quite entertaining. Maju terus #FilmIndonesia #Dilan1990 #ShortReview

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s