The Killing of a Sacred Deer, literally killing my brain cells a bit.

The Killing of the Sacred Deer (2017)

Directed by Yorgos Lanthimos

Baru sejam yang lalu saya keluar dari bioskop nonton film yang banyak mendapat respon positif dari teman2 komunitas nonton. Sengaja tanpa membaca apapun yang berkaitan dengan film ini biar pengalaman menonton lebih utuh, tapi ternyata saya tidak siap. Film ini memberikan efek yg sama seperti video2 pendek yg bertebaran di timeline di facebook dengan caption “mention your friend and say nothing”. Yes… for those love this, they might call it “artsy”, for those who doesn’t… hey just don’t get it.

Short Review :

Seorang dokter bedah jantung; Steven (Collin Farrell) menjalin kedekatan dengan anak remaja yang kehilangan ayahnya di meja operasi bernama Martin (Barry Keoghan). Kedekatan mereka yang tidak lazim seakan menutup luka kehilangan Martin, dan mengundang remaja pendiam ini kedalam kehidupan keluarga si dokter malah menjadi langkah yang berbahaya. Tidak hanya bagi sang istri; Anna (Nicole Kidman), tapi juga kedua anaknya; Kim dan Bob yang menjadi lumpuh tiba-tiba.

ABSURD AND SLOW !

I just need to discuss this! Spoiler di review ini bisa jadi menyebalkan untuk anda, bisa jadi bekal sebelul nonton dan memahami film drama horror yang satu ini. Dibuka dengan cukup aneh. Adegan-adegan sederhana dengan dialog yang kelewat ringan dan pointless diiringi musik horror yang intens hingga di tengah film. Dari cara berkomunikasi mereka satu sama lain, membuat saya seperti susah membayangkan setting film ini di negara mana. It’s cold, polite, gloomy, and uncomfortable. No, not america. Interaksi yang aneh, musik aneh, dialog aneh hanya membuat saya semakin tenggelam di tengah absurdity.

Walaupun cukup lambat dan durasi yg panjang, saya tidak sekalipun mengantuk. Saya seperti mikir sepanjang film dan mencari-cari clue yang biasanya ditebar oleh film maker sehingga penonton bisa mulai memahami apa yang terjadi. Tapi jangan salah… film ini membuat anda bingung tanpa ampun, bahkan sampai film berakhir. Film ini mengingatkan saya dengan film Joko Anwar – Modus Anomali, dimana film nya tak ber setting di negara manapun. Film nya sibuk bercerita dan menakuti penonton dengan kengerian2 yang mungkin terjadi.

SPOILER ALERT SPOILER ALERT !!!

Ide film ini menarik! Bercerita tentang praktek mistis di tengah setting medis. Penonton tidak akan berani berspekulasi bahwa ini film dukun2an saat dua karakter penting dalqm film ini adalah pasangan dokter. Bahkan saat kelumpuhan terjadi pada anak2 Steven dan semua alat kedokteran canggih menyatakan mereka sehat2 saja, saya tidak berani menyimpulkan ini praktek ilmu hitam, saya malah mengira mungkin jenis penyakit baru atau sejenis virus atau racun yang mematikan. Bagaimanapun saya cuma berspekulasi karena film maker nya tidak menunjukan visual2 witchcraft atau voodoo dan semacamnya dalam screen. Horror ini dimulai saat empat ciri2 jelang kematian sang anak mulai terjadi satu per satu. Maka kita tahu siapa pelakunya, tapi bagaimana?

THRILLER ORGAZMYC

Satu kalimat penting yang seharusnya diucapkan oleh Martin yang malah tidak ada dalam film ini adalah “Bunuh salah satu anakmu atau istrimu untuk membalas dendam kematian ayahku”. Kalimat itu adalah mantra penting yang tidak ada dalam film yang akan menjelaskan semua keanehan hingga adegan pengorbanan terjadi. Bagaimana Steven sang ayah meminta pendapat guru di sekolah manakah anak yang lebih baik? Menjelaskan pula sifat asli manusia saat bertahan hidup menjadi insting utama para manusia logis. Menjelaskan kenapa Bob, si anak kecil ini tiba2 menjadi anak penurut yang memotong rambutnya sendiri dan menceritakan sahabat2nya di sekolah yg mungkin akan merindukan dirinya. Menjelaskan bagaimana Anna sang ibu menjadikan sex sebagai senjata pertahanan dan menawarkan anak baru. Karena kali ini siapa yang mati bukan terserah Martin, tapi keputusan mutlak si dokter pembunuh sekaligus suami dan seorang ayah. Hanya Kim yang mengajarkan kepada penonton bahwa cinta tulus masih ada, orang yg rela berkorban untuk keluarga, bahkan berusaha merayu Martin untuk melarikan diri bersama agar tak perlu ada yg mati.

BLOODY SCENE

Semua menjadi jelas bagi saya saat Martin menggigit tangannya sendiri dan menjelaskan bahwa kehadiran sang dokter bukan mengobati, tapi menyentuh luka yang menganga dan membuat semakin sakit. Menyuap jam tangan mahal untuk menutup kesalahan dan memperkenalkan keluarganya yg sempurna malah membuat Martin semakin terluka bukan diterima.

SANG IBU?

Begitu Martin mengulang kalimat ibunya “Your hand is beautiful, white and clean”, saya tahu bahwa ibunya Martin juga sebenarnya dibawah pengaruh untuk menggoda si dokter dan mengatakan kalimat yang diinginkanya. Can’t you see how people easily obey him? Yes! Pendek kata bisa dibilang ini film tentang tenung, santet, guna-guna, yang tidak lazim di barat apalagi di dunia kedokteran tapi terbukti ada. Bagaimanapun berada di posisi Steven sang ayah kelewat menakutkan untuk saya.

So… I give this drama horror mystery a 8 out of 10*

Yang gak suka film aneh, coba tunggu insidious aja deh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s