Beauty & The Beast

Beauty & The Beast (2017)
Director: Bill Condon | Writers: Stephen Chbosky (screenplay), Evan Spiliotopoulos (screenplay)

Hampir semua orang menunggu-nunggu film ini termasuk saya tentunya, tapi saya menunggu cukup lama agar penonton surut dan saya bisa menonton tenang tanpa banyak anak kecil di bioskop. Trust me I love kids, except in the theater they are beast :-p. Sebuah film yang saya masih ingat benar waktu itu masih SD, film Beauty & The Beast menjadi berita di TV dan saya cukup terpukau dengan teknik gambar 3D look-alike di scene legendaris dansa-nya si cantik dan buruk rupa, waktu itu film dengan teknik 3D tidak se populer sekarang.

Mini Synopsis :

Belle (Emma Watson) seorang gadis lugu yang tinggal di sebuah desa kecil di perancis mengambil alih hukuman sang Ayah yang mencuri sekuntum mawar di kastil terpencil milik Makhluk mengerikan; The Beast (Dan Stevens). Apakah kutukan buruk rupa bisa terpecah dengan cinta sejati sekali lagi?

Bigger and Better.

Walaupun saya sedikit mengantuk karena ini film musikal, tapi harus saya akui film ini sangat bisa dinikmati oleh penonton level apapun. Dari semua teknis, saya terpukau-pukau dengan Design film ini, dari kastil berukir gaya victorian, design furnitur yang hidup, dan tentunya CGI Beast yang cukup realistis. Love the set, love the costume, Oscar worthy lah pokoknya.

Yang sangat menarik buat saya adalah film ini benar-benar sama persis dengan versi kartu-nya dari angle dan pace cerita, tentunya dengan tambahan detail di sana sini untuk mempercantik film yang saya tidak keberatan sama sekali. Tadinya saya meragukan scene favorite saya di film kartun dengan lagu “Be my Guest” akan bisa dieksekusi cantik, tapi saya salah. Versi live-action nya jelas lebih mewah, megah, dan keren banget. Still my favorite !

LGBT ?

Let’s talk about this… Harus diakui banyak semiotika yang tersebar di banyak bagian, seperti kedekatan Gaston dan LaFou, Cross Dressers, dan Ian McKellen tapi tidak membuat film ini layak dipanggil sebagai “Gay Bait audience”. Kok rasanya kurang pas film anak-anak dikaitkan dengan Orientasi Seksual. Kalau Disney modern sudah memberikan karakter wanita menjadi perkasa, kenapa tidak karakter para pria menjadi lebih lembut dan perasa. Girls, you want this rite?!

More Live Action please!

Setelah sukses dengan Alice in Wonderland, Cinderela, Maleficent dan disusul Beauty & The Beast, bisa dipastikan Disney akan membuat film-film live action lainnya. Film-film kartun sukses 2D harus di re-package lagi untuk memancing audience yang lebih muda sekaligus penonton lama yang sudah menjadi parents. Nice trick Disney! Nggak sabar kan menunggu versi terbaru Mulan, Pocahontas, Aladin, dan mungkin Little Mermaid.

8,5 out of 10* #ShortReview #MovieJunky

NOTE : Jangan lupa tonton Beauty & The Beast versi Perancis (La Belle et La Bete) yang nggak kalah serunya, pemenang film terbaik di perancis dan cukup dark.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s