Jakarta Undercover, back on screen

(Moamar Emka’s) Jakarta Undercover (2017)

Directed by Fajar Nugros

5 tahun di Jakarta saya tidak lagi pergi ke dunia malam seperti dulu, ya… sesekali tiba2 nyasar aja here and there. Setidaknya saya tau bentuknya club di “kota”, stripper nite, sloki girls, Apollo gay club, prostitusi gadis2 remaja di ruang kaca, karaoke eksekutif dgn bedroom dan beberapa party sosialita. Mostly work, I don’t really party anymore. But it’s not really undercover, you can just walk in to it.
Mini synopsis :

Seorang penulis dari jawa timur; Pras (Oka Antara) bertemu dengan gadis cantik seorang model dan Pekerja Seks Komersil Eksekutif; Laura (Tiara Eve), berteman dengan Gay striper; Awink (Ganindra Bimo), secara tak sengaja bersahabat dengan mafia narkoba Jakarta; Yoga (Baim Wong). Ensemble unik ini bercampur macam liquor warna warni ala minuman di club malam jakarta. Fun, Dirty, Addictive, and sometimes… deadly.

Remake? Sekuel? Prequel? 

Saya membaca buku ini sekitar 2005, tidak seperti Novel yg saya bayangkan, tidak ada narasi di dalamnya, semacam informasi deskriptif tentang dunia malam di Jakarta dan kegiatan seksi lainnya. Harus diakui buku ini berhasil jadi best seller karena timing keluarnya, personally… not my kinda book. Maka dari itu saya sedikit bingung nonton film Jakarta Undercover pertama yang saya tonton tahun 2006. Di sini saya jatuh cinta dengan Fachri Akbar yg sukses memerankan karakter waria, dan kemudian entah dia kemana setelahnya. Puff… he is gone.

2017 tetiba muncul trailer film Jakarta Undercover yang harusnya cukup ditulis inspired by Moamar Emka. Sekali lagi… karena bukunya tidak ada narasi cerita. Tentunya ada Arisan sosialita dan Germo Mami yg punya anak BD  (Bandar), yang meng-hire pacar si anak jadi PSK, di bumbui Gay Bar scène, Lesbian play role, bikini party, sushi girl, dan banyak lagi. Sedikit gak mungkin memang menuangkan semua isi buku Emka dalam film 90 menit. Masih ada mandi kucing, massage plus plus, dan banyak lagi bab-bab yg tidak mungkin dijejalkan dalam cerita. Filmnya sendiri cukup keteteran, kebanyakan yg ingin disampaikan dengan chemistry karakter yg dipaksakan, acting yang sedikit over, dan plot yg unrealistic. Oka Antara sih bagus, tapi Ganindra Bimo harus diakui berhasil mencuri spotlight sepanjang film. Mas-mas macho ini totalitas jadi gay cross-dresser Ibu kota.

Film khusus dewasa. Ada sex scene (yg nanggung), dan banyak side-boobs. Terlalu banyak serapah; Anjing, Bangsat, Ngaceng, dan banyak kata2 senada. Film bioskop rasa indie (dikit) dan gak mungkin masuk tv. 6 out of 10* nggak jelek dan cukup menghibur #ShortReview #MovieJunky Maju Terus #FilmIndonesia 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s