5 Hal Bodoh saat Resign.

Saya nggak berbakat menulis ini, selain saya jarang keluar masuk perusahaan, saya juga payah dalam hal “Saying Good Bye” ke perusahaan tempat saya bekerja. Tapi mungkin 5 hal yang sering saya temui ini (mostly not me) bisa jadi pertimbangan, biar gak jadi “Mantan Karyawan” yg nyebelin di kantor lama.

  1. Resign setelah terima THR (Tunjangan Hari Raya).
    Saya pernah sekali benar2 menolak tawaran pekerjaan setelah lebaran hari raya. THR memang benar hak kita dalam bentuk Gaji ke-13, tapi bagaimanapun perusahaan sudah sangat baik dan memberi kepercayaan kita dan menjalankan kewajibannya. Jika anda bekerja di perusahaan besar mungkin nggak jadi masalah, tapi kalau di perusahaan start-up, bisa jadi anda di-cap nggak tau terima kasih.
  2. 1 Month notice dikurangi sisa cuti.
    Sama persis dengan kasus pertama, cuti hak anda, Tapi satu bulan atau pada umumnya terhitung 30 hari ini adalah masa cukup kritis untuk membagi tugas, atur strategi, mencari pengganti, dan banyak lagi pekerjaan yang harus dilimpahkan dalam waktu 1 bulan yang kadang kali tidak cukup atau tidak maksumal. Masih mau dipotong 2 minggu ?
  3. Ancaman Resign
    Ini sering sekali saya temui, baik oleh kawan atau junior saya di perusahaan. Hanya karena masalah sepele, atau sakit hati dengan atasan, jangan lantas buru-buru bilang “Yaudah kalau begitu saya mengundurkan diri dari perusahaan, pak!”. Karena saya jamin jawabanya adalah “Oke, Silahkan!”. Ego boleh, tapi jangan lupa bahwa tidak hanya perusahaan yg butuh kita, tapi kita juga butuh perusahaan. Pada dasarnya tidak ada yg suka ancaman, dan tidak ada karyawan yang tak tergantikan.
  4. Kabar Kabur
    Keluar dari perusahaan dengan cara kabur biasanya dilakukan para fresh graduate yang belum faham dunia kerja, atau level staff bawah di suatu perusahaan. Eh jangan salah, saya pernah melihat kasus ini yang dilakukan oleh karyawan di usia 26 tahun yang memutuskan nggak ngantor lagi setelah terima gaji. Telp gak diangkat, sms nggak dibales.(Jaman itu belum ada whatsApp). Semacam punya pembantu yang pulang mudik dan gak balik2.
  5. Talk Bad, behind the back.
    Kalau ini pernah saya alami. Setiap kepindahan saya ke perusahaan baru sudah pasti dibumbui pertanyaan dari teman seperti; “Emang kenapa pindah?”, dan jawaban saya “New opportunity” tidak pernah memuaskan pertanyaan mereka. Semacam harus ada alasan jelek dibalik kepindahan saya. Hanya satu kali saya keluar perusahaan karena alasan “nggak suka ama temen kerjanya”, sisanya pasti karena kesempatan di perusahaan baru. Saat interview pekerjaanpun saya ditanya “Kenapa pingin pindah?” dan saya mencoba cari jawaban negatif, tapi selalu gak masuk akal jadi alasan saya keluar. Saya pasti menjawab “I love my Job, and I love the company where I work. Saya tidak berniat keluar, tapi saya memang mencari kesempatan baru yang lebih baik”. Percayalah… ngomongin jelek di belakang tentang perusahaan di tempat kita bekerja, akan jadi kebiasaan baru membenci tempat pekerjaan baru. It’s a habit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s