NEPAL. Dari Kathmandu Sampai Kaki Himalaya ; Nagarkot.

Published on Diradio Magz ed. Jul-Aug16

Setahun yang lalu Nepal dilanda gempa berkekuatan7,8 SR yang masih bisa kita saksikan kedahsyatannya di video-video yang di-upload di youtube. Seluruh dunia ikut memberikan bantuan dana untuk Nepal membangun kembali. Berita gembira yang saya baca dari website Tripadvisor, kini nepal sudah siap menerima turis kembali.

Saya cukup beruntung sudah pulang dari Nepal begitu gempa terjadi, tepatnya 20 hari sebelum Kathmandu perak poranda. Sepuluh hari mengunjungi Nepal ternyata tidak cukup, karena masih banyak bangunan bersejarah yang belum saya kunjungi karena keterbatasan waktu. Entah naluri fotografer atau firasat, saya mendedikasikan diri untuk mengambil foto sebanyak-banyaknya, mulai dari mural religius yang berusia sangat tua, detail ukiran kayu di pilar-pilar kuil sampai atap – atap istana.

img_2493

Kendaraan umum yang banyak digunakan di Kathmandu adalah bis umum yang berumur cukup tua, juga taksi dengan kondisi yang tidak jauh berbeda. Sesekali mencoba alat transportasi khas lokal seperti becak atau tuk-tuk juga bisa, asal kita berhati-hati dengan penipuan. Mata uang Nepal Rupee cukup banyak tersedia di money changer. Masyarakat di Kathmandu sangat ramah-ramah dan cukup banyak yang berbahasa Inggris, bahkan bahasa melayu, karena turis Malaysia cukup banyak datang ke negara ini.

Setahun yang lalu saya ingat, mendarat di bandara Kathmandu, kemudian menginap di area backpacker yang berada di tengah kota yang terkenal disebut Thamel. Udara yang cukup dingin khas suhu pegunungan bercampur debu yang membentuk kabut kelabu, dan riuh klakson disana sini, kekacauan lalu lintas di kota tertua dunia. Akulturasi budaya Hindu dan Budha bercampur menjadi keunikan yang ajaib di Kathmandu.

img_1295

Stupa Boudhanath adalah destinasi pertama seya setelah sejenak beristirahat di hotel. Jantung saya terlampau excited untuk ingin segera menelusuri Nepal, negara di mana Budha dilahirkan. Sebuah kubah putih dan burung dara beterbangan membuat takjub mata saya. Kekaguman luar biasa melihat begitu banyak peziarah yang berdoa sesuai caranya masing-masing, kecintaan dan kepatuhan biara dan para pendoa dengan baju warna warni dan aksesories menarik dan karakter wajah yang bermacam rupa. Saya menyempatkan diri mengibarkan bendera doa warna warni untuk orang saya cinta dan mendoakan kebaikan untuk mereka.

img_1797

Setelah puas mengunjungi situs Budha, saya pergi menuju tempat pura para dewa dewi Hindu berada; Kuil Pashupatinath yang berada sedikit di atas bukit di tengah kota. Di sana mengalir sebuah sungai yang digunakan untuk upacara penyucian, mulai dari pernikahan hingga kremasi abu dilakukan di sungai ini. Seperti halnya di foto-foto kartu pos, akhirnya saya bisa bertemu langsung dengan para Sadhu, pendeta-pendeta yang mempersembahkan hidupnya untuk Shiwa. Dengan mengecat wajahnya warna warni, para pertapa ini menjadi ciri khas Kathmandu.

img_1745

Saat malam tiba saya mencari makanan khas Nepal. Saya dijamu tidak hanya dengan three courses, tapi 7 set makanan. Diawali dengan makanan pembuka sup kacang hijau dengan santan yang asin, dan yang paling khas tentunya momo dan samosa, semacam dim sum dengan isian daging Yak.

Pagi-pagi setelah meninggalkan sarapan hotel, saya bersama 3 teman saya menyewa Taxi agar lebih murah menuju salah satu kuil tertua di Kathmandu dengan menaiki ratusan anak tangga untuk menuju ke puncak bukitnya. Kuil ini bernama Swayambhunath, dengan pemandangan yang spektakuler dan stupa putih dengan Mata Budha di bawah mahkota emasnya.

img_3945

Kathmandu menjadi salah satu kota tertua dengan banyak istana yang masih terpelihara keindahanya. Patan Durbar Square adalah destinasi kami berikutnya. Istana ini masih menyimpan sisa-sisa kemegahan masa di mana masih dipimpin oleh raja-raja. Tanggal 28 Mei 2008 merupakan hari di mana Nepal merubah sistem pemerintahannya dari sistem pemerintahan Kerajaan menjadi Republik. Dengan begitu maka kerajaan Nepal berakhir dan berubah bentuk menjadi Republik Federal yang sekuler (manggumedia.com).

img_2512

Keesokan paginya, kami berangkat menuju Nagarkot, desa dengan pemandangan Himalaya terindah sebelum pendaki melakukan pendakian. Cukup beruntung kami mendapatkan hotel dengan pemandangan dinding Gunung Himalaya biru yang tertutup es putih. Pemandangan matahari terbitnya tanpa tandingan! Setelah puas menikmati pemandangan di atas gunung, kami melanjutkan perjalanan menuju Pokhara, desa terbesar di lembah pegunungan.

img_4897

Saya menutup petualangan di Kathmandu dengan bertemu Kumari Devi, yang merupakan tradisi tua yang masih berjalan hingga sekarang. Akan dipilih banyak calon anak gadis paling cantik di Nepal dan masih suci untuk kemudian diangkat menjadi “Living Goddess” yang disebut juga Dewi Kumari. Tinggal di sisi istana dengan bangunan sederhana, dan seperti gadis kecil lainya, Dewi Kumari yang saya temui sedang merajuk, bisa jadi kedatangan kami menggangu jam menonton kartun favoritnya atau si gadis kecil ini sedang tidak ingin menjadi dewi sore itu. Tidak setiap hari saya bertemu seorang dewi, dan Nepal cukup luar biasa untuk saya. Sudah pasti saya akan kembali. (@sofianhadi999)

Special thanks to Jejak Kaki (eva, santos), that makes the trip happened. Without you guys… how can I nyicil this trip ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s