Komunikasi = Menyimak lebih banyak

Saya selalu percaya untuk menjadi pembicara yang baik, bukanlah berbicara dengan istilah-istilah canggih dan mencampur kalimat2 sehari-hari dengan bahasa inggris. Menurut saya menjadi pembicara yang baik adalah dengan mendengarkan lebih banyak. Dengan mendengarkan lebih banyak, biasanya saya akan mendapatkan informasi lebih banyak tentang lawan bicara yang saya ajak “ngobrol”, dan keuntungan yang selalu saya dapatkan adalah jika seseorang merasa mampu berkomunikasi dengan saya, level berikutnya pastilah “nyambung” atau istilah pergaulan disebut “click” dari situ saya memulai mendapat teman2 (sedikit) lebih banyak. Ya, hanya bermodal mendengarkan. Dengan mendengarkan, saya tidak akan memberikan komentar yang menyinggung perasaan lawan bicara, cukup mendengarkan saya bisa membaca suasana hati si “komunikator”, sekedar mendengarkan saya mampu berkomunikasi dengan lebih menyenangkan karena saya sudah memahami medan perbincangan.

“Tapi bagaimana saya bisa menjadi teman yang baik, sahabat bicara yang menyenangkan, jika saya tak bisa lagi mendengarkan lawan bicara saya?” demikianlah pertanyaan pertama di minggu-minggu mengikuti kelas pelatihan menjadi “Radio DJ” atau istilah awam adalah “Penyiar” di salah satu Radio swasta di Bali. Saya belajar banyak tentang pelafalan kata2 yang benar, melatih mulut agar lancar mengucap huruf vokal, belajar bernafas ala bayi dengan diafragma, memberikan penekanan pada kalimat2 tertentu agar informasi yang saya sampaikan beremosi dan mampu menembus dinding ruang dan waktu, dan banyak rumusan2 bagaimana menjadi seorang penyiar radio yang berkarakter, pembicara handal di ruang siar, pendeknya … bagaimana menjadi komunikator yang kompeten.  Tapi pada kenyataanya saya gagal menjadi penyiar yang layak siar pada waktu itu. Kenapa? Apakah karena saya tidak punya lawan bicara yang bisa saya “korek” informasinya? Gagal karena saya tidak lagi menjadi pendengar, tapi pembicara.

Kesalahan pertama saya adalah, mejadi seorang penyiar radio artinya saya sedang melakukan komunikasi massa  dan berusaha menjangkau pendengar sebanyak2nya. Tapi ternyata saya salah. Kunci menjadi penyiar radio adalah “menjadi teman” untuk satu individu, sifat radio adalah “one on one”, sangat berbeda dengan orator atau pembicara seminar. Saya harus menjadi teman untuk siapapun yang mungkin sedang sendiri di dalam mobil pulang kerja, atau audiens yang sedang belajar ditemani oleh radio. Jadi jawaban untuk pertanyaan di atas adalah; saya bisa menjadi pembicara yang baik tanpa mendengarkan terlebih dahulu, tapi saya harus punya imajinasi.

Imajinasi juga yang menjadi senjata ampuh seorang penyiar karena sifatnya yang audio, sehingga bahasa isyarat verbal ataupun non verbal macam apapun tak akan berfungsi. Imajinasi adalah gol utama yang ingin dicapai setiap radio, mengingat limitasinya yang tak terbatas. Pendengar bebas menggamar image di dalam dunianya.

Kesalahan lain yang saya lakukan adalah melupakan fungi komunikasi yang merupakan jiwa radio tersebut. Tak hanya salah satu dari “to inform” dan “to educate” ataupun “to persuade” tapi harus selalu ada bumbu penyedap utama, yaitu “to entertain”.  Penyiar adalah seorang entertainer. Sayapun belajar bahwa informasi yang bermanfaat, mengandung unsur edukasi bahkan iklan ajakan untuk melakukan sesuatu, akan lebih mudah diterima dan diamalkan jika disampaikan dengan tambahan sedikit “hiburan” tentunya tidak berlaku untuk berita yang bersifat serius, seperti; berita duka atau info mengenai bencana alam misalnya.

Saya belajar untuk membujuk pendengar untuk mendatangi sebuah even, tapi tentunya tidak dengan serta merta menggunakan kata “Ayo dateng dong!” tapi saya buka dengan imajinasi, “iming-iming” dan hal-hal manis lainnya agar tujuan pengiklan tersampaikan. Cara tersebut juga efisien digunakan untuk menjadi marketer handal di dunia profesional.

Menjadi seorang Penyiar juga selalu dikonotasikan orang yang pandai, berwawasan luas dan mengerti banyak hal ketimbang pendengar. Kenyataanya tak jarang pendengar radio menelpon ke studio atau mengirim sms untuk memberi informasi salah yang disampaikan di radio, atau twit-twit dari pendengar yang merevisi informasi, kadang juga email teguran karena limitasi penyiar adalah manusia biasa yang bisa jadi tidak mengetahui banyak hal. Dan itulah yang membuat penyiar selalu bekerja keras menggali informasi sebanyak-banyaknya, karena tak pernah ada kata “cukup pintar” ketika pendengar radio bisa jadi seorang dosen, praktisi, seorang ahli, atau ilmuwan sekalipun. Ya, sedikit berlebihan, tapi pendengar Radio bisa siapa saja yang memungkinkan lebih pintar dari saya.

Umpan Balik yang positif yang berisi pujian dan sanjungan akan menjadi hadiah istimewa, tentunya setelah tahu rasanya mendapatkan umpan balik yang tak terlalu manis dari pendengar. Tapi bukankah memang komponen komunikasi tersebut yang kita butuhkan, bagaimana efek terhadap pendengar sedikit banyak akan berimbas kepada kualitas si pembicara, yaitu penyiar radio itu sendiri.

Tak jarang juga Profesi ini dijadikan orang lain sebagai aktualisasi diri untuk mendapatkan strata sosial yang lebih baik karena memang penyiar radio dicetak untuk menjadi figur idola. Maka akan banyak dari mereka yang berguguran karena menyadari prosesnya yang panjang dan tidak gampang. Berbeda dengan selebriti yang sukses dari dunia radio yang memang passion-nya untuk bersiaran, maka mereka tidak akan meninggalkan dunia siaran, sebut saja Iwet Ramadhan, Tike Priyatnakusuma, Ronald, Ary Kirana, Bayu Oktara dan masih banyak lagi.

Berkomunikasi sebagai penyiar radio sangat berbeda dengan public speaking biarpun karakternya yang sama berdasarkan jumlah audiensnya. Berbicara dengan microphone tentu saja sangat berbeda jika kita berinteraksi langsung dengan lawan bicara, tapi dalam banyak hal banyak kesamaan yang harus difahami untuk bisa menjadi penyiar yang baik.

Keunikan tersebutlah yang membuat saya semakin jatuh cinta dengan dunia radio. Saya harus mahir berimajinasi, mampu mengucapkan kata2 dengan jelas serta benar, setiap hari harus memperkaya pengetahuan dan selalu belajar menjadi kawan baik. Pada akhirnya sayapun tidak memiliki kendala yang berarti untuk memilah cara berbicara dengan teman di dunia nyata, dengan atasan di tempat saya bekerja, termasuk kepada orang yang akan mendampingi saya nanti dan berkeluarga. Akan sangat susah bagi saya untuk menjadi komunikator yang sempurna, jadi kenapa tidak saya memulai dulu untuk menjadi “teman yang baik” saja terlebih dahulu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s