​Love cost a thing?

Meeting bersama satu wanita yang luar biasa mandiri, berbaju batik parang rusak dan berwajah ramah, berambut pendek dan intonasi cukup tegas, saya pikir dia bukan orang Batak, ternyata marganya Siregar. Saya kira orang jawa seperti saya.
33 tahun single, karir sukses, sekolah tinggi, kelewat mandiri, tanpa suami bukan lantaran karena pemilih, tapi karena “saya mahal loh!” Jelasnya sambil tertawa. Saya baru tahu bahwa anak gadis batak harus dibeli dengan sejumlah materi, yes… uang. Pas saya tanya berapa harganya? Dengan santai menjawab “setidaknya 176juta, karena adik saya dibeli 175 juta oleh suaminya”. Temen baru saya ini bukan lantaran gak punya duit, tapi memang begini adatnya. Sinamot istilah harga seorang pengantin perempuan dalam adat batak. Dan angka pengantin wanita ini tentunya diluar biaya pesta pernikahan.

Ada sebuah cerita sepasang kekasih yang sudah berpacaran 9 tahun gagal menikah karena sang pelamar hanya mampu membayar 10 juta. Yes! Pertunangan berakhir karena jual beli tidak disetujui keluarga besar. It is materialistic world, tapi budaya ini bukan berarti membuat orang2 ini materialist. Budaya ini terbentuk bukan tanpa alasan, bibit bebet bobot difilter dengan takaran yg logis, siapa bilang cinta nggak punya currency. Tapi kalau dipikir, this is not bad… kalau mau barang mutu? Ya bayar.

Baru kali ini saya buntu, karena saya selalu percaya “love will always find a way no matter what”. Ternyata… nggak selalu :-p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s