​Oase Distrik Lampu Merah. Jakarta

Mengiyakan teman yang butuh curhat karena stress urusan kantor. Jasa gratisan ini saya sediakan khusus kawan dekat dan biasanya hanya berupa ajakan makan, ngopi, paling “banter” karaoke, malem ini beda. Setelah makan lalapan ayam kami memasuki ruko tua yg sudah banyak ditinggalkan. Sayup2 terdengar suara musik club dari bangunan 4 lantai berwarna merah tak jauh dari kita makan, berlogo gelas martini dan logo bir lokal dan 3 huruf nama tempat ini.
Bersama 4 teman baru, kami ber 6 memasuki ruangan gelap dengan cahaya remang kemerahan dengan ornamen lampion cina dan tune-bars naik turun animatik sepanjang dinding. Club, discotheque, atau tempat hiburan ini hanya seluas 10×10 meter, berbaris kotakan2 dengan meja kursi yg berisi sekelompok pria dan beberapa wanita sexy diantaranya. Tidak ada dance floor, dan mini DJ booth disebrang meja bar melingkar. Where am I dude?! This is new for me. Belum pernah saya datangi tempat seperti ini.

Memasuki area dalam ada satu ruangan berdinding kaca dan berisi gadis2 cantik berbaju mini dan ketat bercengkrama di dalamnya. Sekitar pukul 9, muncul 4 gadis berbaju putih mulai menari diatas mini stage dan tiang pôle, tak lama setelah DJ Maya 77 memutarkan hits mix musik yg biasa saya dengar di club gym pinggiran. Cuma bisa melongo melihat gadis2 cantik berkulit bersih rambut lurus hitam satu persatu menanggalkan bajunya. Campur aduk, saya cuma bisa ketawa2 dan terkagum2, oh iya… salah tingkah.

Semakin malam club pinggiran kota tua ini semakin mudah saya fahami. Setelah hampir selama 30 menit pole dancer menghibur pengunjung tanpa busana, mereka turun dan keliling ke pengunjung dengan sloki2 minuman. “50 ribu aja mas nanti aku goyang”, tawaran ke tiga kepada saya. Untung ruangan ini cukup gelap untuk menyamarkan muka malu saya. Setelah menolak masuk ke toilet, saya pun terpaksa harus membiasakan diri masuk ke toilet yang tidak dipisahkan antara pria dan wanita. Tak ada pintu, Tak ada privasi di sini.
Kembali ke meja bar akan ada semangkuk tahu ukuran dadu digoreng gurih penuh MSG. Harus banyak minum “air putih”! resikonya tentu saja bolak balik ke toilet yg tempatnya berdekatan dengan ruang kaca yg berisi gadis2 cantik, seriously beautiful with amazing body. Masih belum terbiasa melihat gadis2 ini ditunjuk2 oleh pengunjung dan memilih manapun yg mereka suka. Jika batal si gadis akan dikembalikan lagi. Cukup dengan lazer hijau, para mami berblazer merah memanggil anak asuhnya. Para pria kadang lebih asik bermain tebak dadu, yang kalah harus minum, sampai semua orang cukup relax untuk nekad. Ya… nekad berpura-pura tidak punya istri yg Menunggu nya di rumah.

Tiba2 bahu saya ditepuk pelan, dan ada gadis berusia 20 an tahun menjulurkan tangan dan mengajak berkenalan. “Saya sasha” katanya pendek, sayapun sebut nama dengan sopan. Gadis cantik hidung mancung, kulit putih tidak terlalu tinggi dgn body ala model Victoria’s Secret, berbaju super ketat warna Pink dan wangi. Saya kikuk, rupanya dia mengetahui saya dan temen saya sudah memperhatikan sasha cukup lama. Rupanya dia primadona baru. Sebuah kode dilempar kawan saya untuk membeli isyarat “sorry, we are here for drinks only”. Tepat jam 12 kita pulang dalam keadaan “sober” karena harus driving pulang. Yes we are responsible people 🙂

Teman baru cerita baru. Saya masih sama, the same “yes man”. Siap berpetualang kemana aja ngapain aja (Selesai)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s