​Mbak Siti ngenteni (menunggu)

Sekitar saya masih SD kelas 5, hampir setiap pulang sekolah dan berangkat ngaji pasti ketemu mbak Siti. Wanita jawa berkulit gelap, rambut keriting, kaos oblong, sandal jepit seadanya selalu duduk sendirian melihat setiap mobil dan orang berjalan depan rumahnya.
Saya dipanggilnya, ditanya nama dan sekolah dimana berlanjut dia akan menceritakan penantiannya. “Masku” adalah calon suaminya yang berjanji akan datang kerumah untuk melamarnya ternyata tak kunjung muncul. Setelah lebih dari 5 tahun mbak Siti mulai teracuni kata2 dalam pikirannya, bahwa kekasihnya akan datang. Pasti datang! Pikir nya. Tetangga2 sudah melabelinya Gila.

Mbak Siti akan menyetop saya kapanpun jumpa saya. Menceritakan hal yang sama tentang calon suaminya yg tak datang kemarin, mungkin hari ini. Selalu cerita yg sama setiap hari, setidaknya sampai saya SMP. Saya cuma bisa berdiri mendengarkan senyum2. Kadang2 saya duduk dan kawan saya gak sabaran “wong gandeng kok dituruti nyun”. Kadang2 mendengarkan juga skill yg gak kalah penting dari berbicara. Saya belajar mendengarkan dengan sabar.

It’s Valentine. Love is powerful thing, be wise!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s